Rabu, 12 September 2012


Permainan tradisional merupakan sejumlah lakon sehari-hari dalam masyarakat yang kemudian disejajarkan menjadi sebuah keriangan. Ia lalu dijadikan sebagai sebuah permainan yang hidup dan berkembangan dalam masyarakat secara regenerasi.
Seluruh daerah di permukaan bumi ini memiliki permainan tradisional. Namun, permainan tradisional sudah hampir terpinggirkan dan tergantikan dengan permainan modern. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar.
Di Aceh sendiri, tercatat sejumlah permainan dalam masyarakatnya. Permainan yang sudah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu (tak ditentukan) itu menjadi patut diketahui oleh anak-anak Aceh sekarang, minimal sebagai ingatan terhadap suatu yang pernah ada di Bumi Fansuri ini. Pentingnya permainan tradisional bagi anak-anak adalah terhadap perkembangan jiwa, fisik, dan mental anak. Karena itu, berikut kami coba hadirkan sejumlah permainan tradisional masyarakat Aceh yang oleh masyarakat di sini terkadang menjadikannya sebagai ajang kompetisi.
Geulayang Tunang
Geulayang Tunang terdiri atas dua kata, yaitu geulayangyang berarti layang-layang dan tunang berarti pertandingan. Dari namanya jelas mempertegas bahwageulayang tunang merupakan pertandingan layang-layang atau adu layang yang diselenggarakan pada waktu tertentu. Permainan ini sangat digemari masyarakat di berbagai daerah di Aceh. Mengenai nama permainan jenis ini, ada pula yang menyebutnya adu geulayang. Kedua istilah yang disebutkan terakhir memiliki maksud dan arti yang sama.
Pada zaman dahulu, permainan ini diselenggarakan sebagai pengisi waktu setelah masyarakat suatu tempat panen padi. Sebagai pengisi waktu, permainan ini sangat bersifat rekreatif. Oleh karena itu, permainan ini sering kali dilombakan dalam acara peringatan hari kemerdekaan RI atau even-even kebudayaan lainnya di Aceh semisal Pekan Kebudayaan Aceh.
Geudeue-geudeue
Geudeue-geudeue atau ada yang menyebutnya due-dueadalah permainan ketangkasan yang terdapat di daerah Pidie. Di samping ketangkasan, kegesitan, keberanian, dan ketabahan, pemain geudeue-geudeue harus bertubuh tegap dan kuat serta memiliki otot yang meyakinkan. Permainan ini kadang-kadang berbahaya, karena merupakan permainan adu kekuatan.
Permainan ini dilakukan oleh seorang yang berbadan tegap. Mulanya dia tampil di arena menantang dua orang lain yang juga bertubuh tegap. Pihak pertama mengajak pihak kedua yang terdiri atas dua orang supaya menyerbu kepada yang menantang. Ketika terjadi penyerbuan, pihak pertama memukul dan menghempaskan penyerangnya (pok), sedangkan pihak yang pihak kedua menghempaskan pihak yang pertama.
Dalam tiap permainan, bertindak empat orang juru pemisah yang disebut ureueng seumubla (juri), yang berdiri selang-seling mengawasi setiap pemain. Permainan ini mirip dengan olahraga sumo Jepang, bedanya hanya pada jumlah pemain.
Peupok Leumo
Peupok Leumo adalah sejenis permainan yang khas terdapat di Aceh Besar. Permainan ini merupakan suatu permainan mengadu sapi. Permainan ini sebelumnya berkembang di kalangan peternak sapi. Zaman dahulu, lazimnya peupok leumo diselenggarakan oleh sekelompok peternak yang berada pada satu lokasi seperti yang berada pada satu kampung atau lebih luas lagi satu mukim, yang diselenggarakan seminggu sekali. Hari penyelenggaraan permainan ini biasanya setiap Minggu atau Jumat, tetapi tidak tertutup kemunginan di hari lainnya. Lazimnya dilaksanakn pada sore hari, sekitar pukul 16.00-18.00 WIB atau selepas asar.
Selaian peupok leumo yang mirip dengan karapan sapidi Betawi, masih ada lagi acara peupok leumo tunang, yaitu permainan peupok leumo untuk mencari sapi yang akan keluar sebagai pemenang. Acara peupok leumotunang ini biasanya diselenggarakan dengan menggunaka panitia dan dewan juri. Persoalan waktu, tergantung kepada cuaca dan musim-musim tertentu, seperti sehabis panen atau waktu lain seperti pada hari-hari besar dan sebagainya.
Pacu Kude
Pacu Kude dapat diartikan duduk di atas kuda yang lari atau dapat diartikan sebagai pacuan kuda. Permainan ini terdapat di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini karena daerah Takengon terdapat padang rumput yang sangat luas serta kuda memang alat angkutan yang sangat praktis di daerah pegunungan, di samping untuk membajak sawah.
Sehabis panen, biasanya kuda-kuda ini tidak mempunyai kegiatan apa-apa yang dianggap penting. Waktu-waktu seperti itu sering kuda-kuda tersebut berlari-lari berkelompok. Kebiasaan ini dikoordinir akhirnya terbentuk permainan pacu kude.
Pada awalnya permainan ini adalah permainan informal, tidak ada aturan yang baku untuk dilaksanakan. Namun, lama kelamaan, permainan ini ditingkatkan menjadi permainan resmi dan terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi.
Bola Keranjang
Bola keranjang atau bahasa Gayo disebut dengan tipak rege merupakan sejenis permainan bola yang dibuat dari rotan belah yang dipergunakan pada permainan sepak raga (sepak takraw). Permainan ini sudah jarang sekali dilakukan. Pada bola keranjang diikat rumbai-rumbai kain yang ber­warna merah, putih, dan hitam, sebanyak 15 helai.
Zaman masa dahulu, sepak raga merupakan sejenis permai­nan rakyat. Permainan ini sangat digemari oleh anak-anak, remaja/pemuda maupun orang-orang dewasa. Mereka me­manfaatkan waktu-waktu senggangnya dengan permainan ini.
Lenggang Rotan
Lenggang rotan merupakan jenis permainan yang terbuat dari rotan kecil yang dibuat melingkat seperti gelang besar. Rotan yang digunakan biasanya seukuran jempol tangan atau bisa lebih kecil. Rotan yang sudah dilingkarkan seperti gelang besar akan dimainkan di pinggang sambil menggoyang pinggang. Rotan tersebut akan berputar. Orang yang rotannya jatuh terlebih dahulu dianggap kalah. Permaianan ini umumnya juga terdapat di dataran tinggi Gayo, karena di sana memang terdapat banyak rotan.dbs


Permainan tradisional merupakan sejumlah lakon sehari-hari dalam masyarakat yang kemudian disejajarkan menjadi sebuah keriangan. Ia lalu dijadikan sebagai sebuah permainan yang hidup dan berkembangan dalam masyarakat secara regenerasi.
Seluruh daerah di permukaan bumi ini memiliki permainan tradisional. Namun, permainan tradisional sudah hampir terpinggirkan dan tergantikan dengan permainan modern. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar.
Di Aceh sendiri, tercatat sejumlah permainan dalam masyarakatnya. Permainan yang sudah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu (tak ditentukan) itu menjadi patut diketahui oleh anak-anak Aceh sekarang, minimal sebagai ingatan terhadap suatu yang pernah ada di Bumi Fansuri ini. Pentingnya permainan tradisional bagi anak-anak adalah terhadap perkembangan jiwa, fisik, dan mental anak. Karena itu, berikut kami coba hadirkan sejumlah permainan tradisional masyarakat Aceh yang oleh masyarakat di sini terkadang menjadikannya sebagai ajang kompetisi.
Geulayang Tunang
Geulayang Tunang terdiri atas dua kata, yaitu geulayangyang berarti layang-layang dan tunang berarti pertandingan. Dari namanya jelas mempertegas bahwageulayang tunang merupakan pertandingan layang-layang atau adu layang yang diselenggarakan pada waktu tertentu. Permainan ini sangat digemari masyarakat di berbagai daerah di Aceh. Mengenai nama permainan jenis ini, ada pula yang menyebutnya adu geulayang. Kedua istilah yang disebutkan terakhir memiliki maksud dan arti yang sama.
Pada zaman dahulu, permainan ini diselenggarakan sebagai pengisi waktu setelah masyarakat suatu tempat panen padi. Sebagai pengisi waktu, permainan ini sangat bersifat rekreatif. Oleh karena itu, permainan ini sering kali dilombakan dalam acara peringatan hari kemerdekaan RI atau even-even kebudayaan lainnya di Aceh semisal Pekan Kebudayaan Aceh.
Geudeue-geudeue
Geudeue-geudeue atau ada yang menyebutnya due-dueadalah permainan ketangkasan yang terdapat di daerah Pidie. Di samping ketangkasan, kegesitan, keberanian, dan ketabahan, pemain geudeue-geudeue harus bertubuh tegap dan kuat serta memiliki otot yang meyakinkan. Permainan ini kadang-kadang berbahaya, karena merupakan permainan adu kekuatan.
Permainan ini dilakukan oleh seorang yang berbadan tegap. Mulanya dia tampil di arena menantang dua orang lain yang juga bertubuh tegap. Pihak pertama mengajak pihak kedua yang terdiri atas dua orang supaya menyerbu kepada yang menantang. Ketika terjadi penyerbuan, pihak pertama memukul dan menghempaskan penyerangnya (pok), sedangkan pihak yang pihak kedua menghempaskan pihak yang pertama.
Dalam tiap permainan, bertindak empat orang juru pemisah yang disebut ureueng seumubla (juri), yang berdiri selang-seling mengawasi setiap pemain. Permainan ini mirip dengan olahraga sumo Jepang, bedanya hanya pada jumlah pemain.
Peupok Leumo
Peupok Leumo adalah sejenis permainan yang khas terdapat di Aceh Besar. Permainan ini merupakan suatu permainan mengadu sapi. Permainan ini sebelumnya berkembang di kalangan peternak sapi. Zaman dahulu, lazimnya peupok leumo diselenggarakan oleh sekelompok peternak yang berada pada satu lokasi seperti yang berada pada satu kampung atau lebih luas lagi satu mukim, yang diselenggarakan seminggu sekali. Hari penyelenggaraan permainan ini biasanya setiap Minggu atau Jumat, tetapi tidak tertutup kemunginan di hari lainnya. Lazimnya dilaksanakn pada sore hari, sekitar pukul 16.00-18.00 WIB atau selepas asar.
Selaian peupok leumo yang mirip dengan karapan sapidi Betawi, masih ada lagi acara peupok leumo tunang, yaitu permainan peupok leumo untuk mencari sapi yang akan keluar sebagai pemenang. Acara peupok leumotunang ini biasanya diselenggarakan dengan menggunaka panitia dan dewan juri. Persoalan waktu, tergantung kepada cuaca dan musim-musim tertentu, seperti sehabis panen atau waktu lain seperti pada hari-hari besar dan sebagainya.
Pacu Kude
Pacu Kude dapat diartikan duduk di atas kuda yang lari atau dapat diartikan sebagai pacuan kuda. Permainan ini terdapat di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini karena daerah Takengon terdapat padang rumput yang sangat luas serta kuda memang alat angkutan yang sangat praktis di daerah pegunungan, di samping untuk membajak sawah.
Sehabis panen, biasanya kuda-kuda ini tidak mempunyai kegiatan apa-apa yang dianggap penting. Waktu-waktu seperti itu sering kuda-kuda tersebut berlari-lari berkelompok. Kebiasaan ini dikoordinir akhirnya terbentuk permainan pacu kude.
Pada awalnya permainan ini adalah permainan informal, tidak ada aturan yang baku untuk dilaksanakan. Namun, lama kelamaan, permainan ini ditingkatkan menjadi permainan resmi dan terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi.
Bola Keranjang
Bola keranjang atau bahasa Gayo disebut dengan tipak rege merupakan sejenis permainan bola yang dibuat dari rotan belah yang dipergunakan pada permainan sepak raga (sepak takraw). Permainan ini sudah jarang sekali dilakukan. Pada bola keranjang diikat rumbai-rumbai kain yang ber­warna merah, putih, dan hitam, sebanyak 15 helai.
Zaman masa dahulu, sepak raga merupakan sejenis permai­nan rakyat. Permainan ini sangat digemari oleh anak-anak, remaja/pemuda maupun orang-orang dewasa. Mereka me­manfaatkan waktu-waktu senggangnya dengan permainan ini.
Lenggang Rotan
Lenggang rotan merupakan jenis permainan yang terbuat dari rotan kecil yang dibuat melingkat seperti gelang besar. Rotan yang digunakan biasanya seukuran jempol tangan atau bisa lebih kecil. Rotan yang sudah dilingkarkan seperti gelang besar akan dimainkan di pinggang sambil menggoyang pinggang. Rotan tersebut akan berputar. Orang yang rotannya jatuh terlebih dahulu dianggap kalah. Permaianan ini umumnya juga terdapat di dataran tinggi Gayo, karena di sana memang terdapat banyak rotan.dbs

Senin, 10 September 2012

Dibalik Cerita Masjid Baiturrahman, Saksi Sejarah Aceh


Dibalik Cerita Masjid Baiturrahman, Saksi Sejarah Aceh

03AGU
baiturrahmanMesjid Baiturrahman telah menjadi simbol Aceh. Menelusuri sejarah Mesjid yang berada di jantung kota Banda Aceh ini, ibarat melihat perjalanan bumi Serambi Mekah. dimulai dari masa kesultanan, penjajahan Belanda dan masa bersama Indonesia lengkap dengan pemberontakannya. Mulai Daerah Operasi Militer, perjanjian damai hingga bencana tsunami. Rumah ibadah ini menyaksikan semuanya
Sejarah mencatat, Baiturrahman kembali melewati satu babak dalam sejarah masyarakat Aceh. Mesjid ini merupakan simbol Aceh. Perjalanan Mesjid ini juga merekam sejarah Aceh. Karena itu tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Aceh, tanpa menengok Mesjid berkubah lima ini dan sedikit mengenal sejarahnya.
Mesjid ini sudah berada di tengah kota Banda Aceh sejak zaman kesultanan. Ada dua versi hikayat pendiriannya. Ada yang menyebut Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah membangun Mesjid ini pada abad ke 13. Dalam versi lain menyatakan Baiturahman didirikan pada abad 17, pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Tak ada yang bisa memastikan mana yang benar. Nama Baiturahman, menurut catatan sejarah, diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu Mesjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam wilayah kerajaan Aceh. Perubahan fisik mesjid mengikuti alur sejarah bumi Serambi Mekah. Bangunan yang kelihatan sekarang bukanlah lagi bangunan semasa zaman kesultanan. Pada masa kesultanan, gaya arsitektur Baiturahman mirip Mesjid-Mesjid tua di Pulau Jawa. Bangunan kayu dengan atap segi empat dan bertingkat yang memiliki 1 kubah. Pada 1873, mesjid ini dibakar oleh Belanda dikarenakan mesjid dijadikan pusat kekuatan tentara Aceh melawan Belanda. Dan pada tahun itu pula terjadi pertempuran besar antara rakyat Aceh dengan tentara Belanda. Tembak menembak yang membuat gugurnya salah seorang perwira tinggi Belanda bernama Kohler. Pertempuran di Mesjid ini dikenang lewat pembangunan prasasti Kohler pada halaman Mesjid. Letak prasasti di bawah pohon Geulempang, yang tumbuh di dekat salah satu gerbang Mesjid.
Peletakan batu pertama pembangunan kembali Mesjid dilakukan tahun 1879 oleh Tengku Malikul Adil, disaksikan oleh Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat itu, G. J. van der Heijden. Pembangunan mesjid ini dirancang arsitek Belanda keturunan Italia, De Brun. Bahan bangunan Mesjid sebagian didatangkan dari Penang – Malaysia, batu marmer dari Negeri Belanda, batu pualam untuk tangga dan lantai dari Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Birma dan tiang-tiang mesjid dari Surabaya. Pembangunan kembali Mesjid dengan satu kubah, selesai dua tahun kemudian. Pada masa residen Y. Jongejans berkuasa di Aceh Mesjid ini kembali diperluas. Kemudian setelah itu, masyarakat Aceh semakin besar, untuk mengupahi dan meredakan kemarahan rakyat Aceh maka Mesjid diperluas lagi kiri kanannya pada tiga tahun kemudian. Ditambahlah dua kubah lagi di atasnya sehingga menjadi tiga kubah. Belanda kemudian meninggalkan Aceh. Bumi Nangroe beralih pada Indonesia.
Pada 1957, masa pemerintahan presiden Soekarno, Mesjid ini kembali berubah. Dua kubah baru dibuat di bagian belakang. Dibangun pula dua menara dengan jumlah tiang mencapai 280 buah. Karena perluasan ini, sejumlah toko di pasar Aceh yang berada di sekeliling mesjid tergusur. Peletakan batu pertama dilakukan oleh menteri agama Republik Indonesia pada masa itu KH Ilyas, kemudian dibangun kira-kira empat tahun. Bangunan berikutnya itu sudah sampai pada menara yang berikut ini. Renovasi Mesjid yang dilakukan pemerintah Soekarno terjadi pada masa gerakan Darul Islam pimpinan Daud Beureueh. Sehingga banyak kalangan yang mengaitkan pembangunan itu sebagai usaha pemerintah meredam pemberontakan itu. Lima kubah juga dianggap mewakili Pancasila yang digagas Soekarno. Pada kurun 1992-1995, Mesjid kembali dipugar dan diperluas hingga memiliki tujuh buah kubah dan lima menara. Setelah dipugar, Mesjid itu mampu menampung 10.000 hingga 13.000 jemaah. Halaman Mesjid juga diperluas hingga menjadi 3,3 hektar.
Semua pemugaran ini dilakukan dengan mempertahankan arsitektur dan bentuk ornamen lama pada masa Belanda. Salah satu tiang peninggalan Belanda, ketika Mesjid masih berkubah satu, masih dipertahankan. Arsitektur Mesjid ini bercorak eklektik, yaitu gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negeri.Ini misalnya tampak pada tiga pintu bukaan serta jendela yang bisa berfungsi sebagai pintu masuk. Jendela ini dibentuk oleh empat tiang langsing silindris model arsitektur Moorish, yang banyak terdapat di Mesjid-Mesjid Afrika Utara dan Spanyol. Sementara bagian tengah ruang shalat berbentuk bujur sangkar, diatapi kubah utama yang bercorak bawang. Pucuknya dihiasi kubah, mirip Mesjid-Mesjid kuno di India. Pada jendela yang sekaligus menjadi pintu terdapat ukiran yang tampak kokoh dan indah. Untuk menambah kemegahan dan keindahan, Mesjid ini ditempatkan di tengah lapangan terbuka, sehingga semua bagian Mesjid jelas terlihat juga dari kejauhan.
Mesjid Baiturrahman menjadi saksi darurat militer di Aceh, ketika muncul Gerakan Aceh Merdeka. Baiturrahman ini menjadi tempat memanjatkan doa dan harapan rakyat Aceh atas tanggungan beban konflik yang dideritanya. Baiturrahman ini juga menjadi sarana singgah pejabat pusat mengunjugi Aceh yang ketika itu tak aman. Baiturrahman yang konon merupakan salah satu Mesjid terindah Asia Tenggara ini juga menjadi saksi bisu bencana tsunami. Bencana memilukan itu juga merusak sejumlah bagian Mesjid. Rakyat menyelamatkan diri kedalam mesjid sembari meneriakkan Asma Allah.
Pada halaman Mesjid inilah berdirinya posko bencana pertama pasca tsunami Desember 2004 tersebut. Mesjid ini tangguh bertahan dari gempa dan terjangan air laut yang naik ke daratan. Hanya sedikit bangunan yang retak akibat gempa.
Pasca tsunami perdamaian datang. Mesjid ini kembali menjadi bagian sejarah itu. Di Mesjid inilah warga menggelar doa khusus ketika delegasi Indonesia bertemu dengan wakil Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia. Mesjid Baiturrahman menyaksikan perubahan Aceh pasca tsunami dan perjanjian damai. Ketika syariah Islam berlaku di Serambi Mekah, kawasan Mesjid Baiturahman dinyatakan sebagai area terbatas. Hanya pengunjung yang menutup aurat sesuai hukum syariah boleh masuk halaman Mesjid.

Sabtu, 08 September 2012

asal usul tari guelCerita Rakyat: Asal Usul Tari Guel Aceh – Tersebutlah dua bersaudara putra Sultan Johor, Malaysia. Mereka adalah Muria dan Sengede.
Suatu hari, kakak beradik itu meng­gem­­bala itik di tepi laut sambil bermain la­yang-layang. Tiba-tiba datang badai dah­­­­­­­­syat se­­­­hin­gga benang layang-layang me­reka pun putus. Sekuat tenaga mereka mengejar layang-layang ter­sebut. Mere­ka lupa bahwa pada saat itu me­reka sedang menggembala itik, hingga itiknya pun pergi entah ke mana.
Setelah gagal menemukan layang-layang mereka, barulah mereka teringat akan itik-itik mereka. Tetapi malang, itik-itik itu tak lagi nampak. Mereka pun pulang dengan ketakutan akan mendapat marah dari orangtua mereka.
Benar juga apa yang mereka pikir­kan. Setiba di rumah, mereka dimarahi ayah mereka. Mereka juga disuruh mencari itik-itik itu, dan tak diizinkan kembali sebelum itik-itik yang hilang itu ditemukan kembali.
Berhari-hari bahkan berbulan-bulan mereka berjalan mencari itik mereka, tapi tak membawa hasil hingga akhirnya mere­ka tiba di Kampung Serule. Dengan tubuh yang lunglai mereka menuju ke sebuah meunasah/langgar dan tertidur lelap. Pagi hari­­nya mereka ditemukan oleh orang kam­pung dan dibawa menghadap ke istana Raja Serule. Di luar dugaan, mereka malah di­angkat anak oleh baginda raja.
Beberapa waktu berlalu, rakyat Seru­le hidup makmur, aman, dan sentosa. Hal ini di­karenakan oleh kesaktian kedua anak tersebut. Kemakmuran rakyat Serule itu mem­­buat Raja Linge iri dan gusar, se­hing­ga meng­­ancam akan membunuh kedua anak ter­sebut. Malang bagi Muria, ia ber­hasil di­­bunuh dan di­makamkan di tepi Sungai Samarkilang, Aceh Tenggara.
Pada suatu saat, raja-raja kecil ber­kumpul di istana Sultan Aceh di Kutaraja. Raja-raja kecil itu mempersembahkan cap usur, semacam upeti kepada Sultan Aceh. Saat itu, Cik Serule datang bersama Sangede. Saat itu, Raja Linge juga hadir. Saat Raja Serule masuk ke istana, Sangede menung­gu di halaman istana.
Sambil menunggu ayah angkatnya, Sa­­ngede menggambar seekor gajah yang ber­warna putih. Rupanya lukisan Sangede ini menarik perhatian Putri Sultan yang ke­mu­di­an meminta Sultan mencarikan se­ekor ga­jah putih seperti yang digambar oleh Sangede.
Sangede kemudian menceritakan bah­wa gajah putih itu berada di daerah Gayo, pa­dahal dia sebenarnya belum per­nah me­­­­lihatnya. Maka, saat itu juga Sultan me­me­rintahkan Raja Serule dan Raja Linge untuk menangkap gajah putih tersebut gu­na dipersembahkan kepada Sultan. Raja Se­ru­le dan Raja Linge benar-benar kebi­ngu­ng­­an, bagaimana mungkin mencari se­suatu yang belum pernah dilihatnya.
Sangede menyesal karena bercerita bahwa gajah putih itu ada di Gayo hingga ayah angkatnya mendapat tugas mencari­nya. Dalam kebingungan itu, suatu malam Sangede bermimpi bertemu dengan Muria yang memberitahu bahwa gajah putih itu berada di Samarkilang, dan sebenarnya ga­jah putih itu adalah dirinya yang menjel­ma saat dibunuh oleh Raja Linge.
Pagi harinya, Sangede dan Raja Seru­le yang bergelar Muyang Kaya pergi ke Sa­mar­kilang seperti perintah dalam mimpi Sangede. Benar juga, setelah beberapa sa­­at mencari, mereka berdua menemukan ga­­jah putih itu sedang berkubang di ping­gir­­an sungai.
Sangede dan Raja Serule Muyang Kaya kemudian dengan hati-hati mengena­kan tali di tubuh gajah yang nampak pe­nurut itu. Tetapi saat akan dihela, gajah pu­tih itu lari sekuat tenaga. Raja Serule dan Sa­­ngede tak mampu menahannya. Mereka ha­nya bisa mengejarnya hingga suatu saat ga­j­ah itu berhenti di dekat kuburan Muria di Samarkilang.
Anehnya, gajah putih itu berhenti se­perti sebongkah batu. Tak bergerak sedikit pun meski Sangede dan Raja Serule men­coba menghelanya. Berbagai cara dicoba oleh Sangede agar gajah putih itu mau beranjak dan menuruti perintahnya untuk diajak pergi ke istana Kutaraja. Tetapi, se­mua­nya sia-sia.
Sangede kehabisan akal. Akhirnya, dia bernyanyi-nyanyi untuk menarik perhatian gajah putih. Sambil bernyanyi, Sangede meliuk-liukkan tubuhnya. Raja Serule ikut-ikutan menari bersama Sangede di depan gajah putih agar mau bangkit dan menuruti perintahnya. Di luar dugaan, gajah putih itu ter­tarik juga oleh gerakan-gerakan Sa­nge­­de, dan kemudian bangkit. Sangede te­rus menari sambil berjalan agar gajah itu meng­ikuti langkahnya. Akhirnya, gajah itu pun meng­ikuti Sangede yang terus menari hingga ke istana. Tarian itu disebutnya tari­an Guel hingga sekarang.
Sangede menyadari bahwa sesuatu ajakan kepada seseorang atau kepada binatang tidaklah harus dengan cara yang kasar. Dengan sebuah tarian pun akhirnya gajah putih itu menuruti ajakannya.

Kamis, 06 September 2012

Ikatan hubungan Aceh dengan negeri China sudah berlangsung sejak 1000 tahun lalu, ditandai ketika Nian Niko Kian Khi yang dalam lagenda Aceh bergelar Panglima Putrou Neng datang ke Aceh pada tahun 1047 Masehi. Dia datang bersama 2000 pasukan mendarat di kawasan Lamuri, Aceh Besar setelah menaklukkan beberapa kerajaan kecil di pesisir Aceh.
Khian Khi menjadi sangat terkenal di Aceh karena mempunyai cerita unik yaitu memiliki suami sampai 100 orang. Konon diceritakan, dari 100 suaminya, 99 diantaranya merupakan pemuda pemuda anak orang berpengaruh di Aceh dan semua mareka bernasib tragis, terkapar meninggal diranjang saat malam pertama. Yang beruntung dan terhindar dari maut yaitu suaminya yang ke 100 bernama syeh Hudam asal Gujarat, India.
Diceritakan, sebelum mendirikan sebuah kerajaan di Lhokseumawe, tepatnya Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Dua lebih dulu menaklukkan beberapa kerajaan kecil dipesisir Aceh. Lalu Khian Khi berhasil menguasai kerajaan Lamuri di Aceh Besar dari tahun 1050 -1069 M. Daerah kekuasaannya semakin luas, yang akhirnya dia menetap di Blang Pulo dan membuat basis pertahanannya di Blang Lancang, sekarang lokasi pabrik instalasi gas alam cair (LNG).
Janda muda, yang kemudian bergelar pendekar Putrou Neng masih menginginkan daerah kekuasaan yang lebih luas lagi dengan menyerbu kerajaan Peureulak di Aceh Timur. Namun cita citanya kandas dan ia terpaksa harus menyerah kepada Panglima Syech Abdullah Kana'an. Syech Abdullah Kana’an yang diterkenal sebagai seorang baik hati tidak menagkap Nian Niko Kian Khi, cuma mengajak damai.  Oleh Panglima kerajaan Peureulak inilah kemudian Kian Khi diberi gelar Panglima Putrou Neng.
Dikisahkan, Panglima Putro Neng sangat cantik, tidaklah heran jika begitu banyak pemuda Aceh tergila-gila padanya. Sadar bahwa dia seorang rupawan, Putrou Neng mengajukan sejumlah syarat kepada siapa saja yang ingin memperisterikan dirinya, harus membawa mas kawin seguci.
Kiranya syarat yang diajukan Putro Neng ini tidak menjadi halangan bagi pemuda Aceh saat itu, terutama kaum bangsawannya. Begitu banyak pemuda yang berlomba untuk mempersuntingnya. Dikisahkan, dari sekian banyak yang antri, yang beruntung adalah seorang pemuda tampan bernama Meurah Johan, putera Raja Adi Gaunali dari kerajaan Lingge, Aceh Tengah.
Hari pesta besar pun ditetapkan. Kemudian, Meurah Johan yang disangka oleh banyak pemuda lainnya bernasib untung, tertimpa nasib buntung. Ketika dia akan mengecap manisnya malam pengantin, Meurah Johan tertimpa musibah. Yaitu pada keesokan harinya. orang banyak pada gempar. Meurah Johan didapatkan telah kaku tubuhnya di- atas pelaminan pengantin.
Kematian Meurah Johan disebutkan cukup misterius dan mereka baru mengetahui penyebab yaitu disaat jenazah dimandikan. Mareka mendapatkan tubuh Meurah Johan kebiru-biruan seperti tersengat kelingking. Bisik-bisik tentang misteri kematian Meurah Johan segera lenyap manakala si cantik jelita, Putrou Neng mendapat lamaran baru tentu yang berkenan di hatinya dan syarat yang harus dipenuhi.
Putrou Neng kembali menikah, kasusnya sama seperti nasib Meurah Johan, meninggal di tempat tidur dengan kebiru-biruan sekujur tubuh. Anehnya, kendati banyak pemuda yang meninggal dimalam pertama bersama Putro Neng tetap saja dilamar pemuda lainnya. Putrou Neng memang cantik sekali, namun dia sepertinya memiliki semacam azimat untuk menaklukkan hati lelaki.
Dikabarkan, dari sekian pemuda (kebanyakan anak raja) yang sudah mencapai 99 orang semua terkapar diranjang dengan tubuh kebiru biruan. Adalah pemuda yang ke-100 dia seorang syeh asal Gujarat, India. Syeh Hudam namanya. Dia berhasil mempersunting Putrou Neng dan tidak mengalami kematian seperti 99 suami semalam lainnya. Apa rahasia manjur dari Syeh Hudam.
Rupanya dia telah menyelidiki kasus demi kasus terhadap pemuda yang menikahi Putrou Neng. Dengan penuh perhitungan, Syeh Hudam pasang kuping sambil pasang mata-mata untuk menyelidiki cerita rakyat yang tinggal di sekitar istana sang janda jelita, Putro Neng. Ketrahuanlah kalau Putrou Neng di rambut bawahnya bersembunyi kalajengking. “Pantaslah”, sebut mareka.
Karuan saja, 99 orang pemuda yang kena sengat kalajengking, pada meninggal semua. Dan Syeh Hudam yang memiliki firasat lain coba pasang siasat, mengatur jarak sebelum menyentuh tubuh Putro Neng. Jarinya diberi minyak pembunuh bisa. Lalu kalajengking yang coba merayap terdentuh ujung jari Syeh Hudam disaat itu pula kalajengking  terkapar menemui ajalnya.
Syeh dari Gujarat ini selamat dan bisa berumah tangga dengan Putro Neng dengan aman dan nyaman . Namun kasihan, perkawinan mareka tidak mendapat keturunan. Putrou Neng meninggal di usia sudah tua. Kuburannya kini masih ada, sudah dipugar di desa Blang Pulo, di tepi jalan masuk pabrik instalasi gas alam cair  (LNG) Blang Lancang.

Sementara kuburan Syeh Hudam sendiri juga masih ada. Dia tidak dikuburkan di dekat Putrou Neng. Tapi di sebuah bukit di Blang Pulo. Baik kuburan Putrou Neng maupun kuburan Syeh Hudam, hingga kini tetap terpelihara.

Ikatan hubungan Aceh dengan negeri China sudah berlangsung sejak 1000 tahun lalu, ditandai ketika Nian Niko Kian Khi yang dalam lagenda Aceh bergelar Panglima Putrou Neng datang ke Aceh pada tahun 1047 Masehi. Dia datang bersama 2000 pasukan mendarat di kawasan Lamuri, Aceh Besar setelah menaklukkan beberapa kerajaan kecil di pesisir Aceh.
Khian Khi menjadi sangat terkenal di Aceh karena mempunyai cerita unik yaitu memiliki suami sampai 100 orang. Konon diceritakan, dari 100 suaminya, 99 diantaranya merupakan pemuda pemuda anak orang berpengaruh di Aceh dan semua mareka bernasib tragis, terkapar meninggal diranjang saat malam pertama. Yang beruntung dan terhindar dari maut yaitu suaminya yang ke 100 bernama syeh Hudam asal Gujarat, India.
Diceritakan, sebelum mendirikan sebuah kerajaan di Lhokseumawe, tepatnya Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Dua lebih dulu menaklukkan beberapa kerajaan kecil dipesisir Aceh. Lalu Khian Khi berhasil menguasai kerajaan Lamuri di Aceh Besar dari tahun 1050 -1069 M. Daerah kekuasaannya semakin luas, yang akhirnya dia menetap di Blang Pulo dan membuat basis pertahanannya di Blang Lancang, sekarang lokasi pabrik instalasi gas alam cair (LNG).
Janda muda, yang kemudian bergelar pendekar Putrou Neng masih menginginkan daerah kekuasaan yang lebih luas lagi dengan menyerbu kerajaan Peureulak di Aceh Timur. Namun cita citanya kandas dan ia terpaksa harus menyerah kepada Panglima Syech Abdullah Kana'an. Syech Abdullah Kana’an yang diterkenal sebagai seorang baik hati tidak menagkap Nian Niko Kian Khi, cuma mengajak damai.  Oleh Panglima kerajaan Peureulak inilah kemudian Kian Khi diberi gelar Panglima Putrou Neng.
Dikisahkan, Panglima Putro Neng sangat cantik, tidaklah heran jika begitu banyak pemuda Aceh tergila-gila padanya. Sadar bahwa dia seorang rupawan, Putrou Neng mengajukan sejumlah syarat kepada siapa saja yang ingin memperisterikan dirinya, harus membawa mas kawin seguci.
Kiranya syarat yang diajukan Putro Neng ini tidak menjadi halangan bagi pemuda Aceh saat itu, terutama kaum bangsawannya. Begitu banyak pemuda yang berlomba untuk mempersuntingnya. Dikisahkan, dari sekian banyak yang antri, yang beruntung adalah seorang pemuda tampan bernama Meurah Johan, putera Raja Adi Gaunali dari kerajaan Lingge, Aceh Tengah.
Hari pesta besar pun ditetapkan. Kemudian, Meurah Johan yang disangka oleh banyak pemuda lainnya bernasib untung, tertimpa nasib buntung. Ketika dia akan mengecap manisnya malam pengantin, Meurah Johan tertimpa musibah. Yaitu pada keesokan harinya. orang banyak pada gempar. Meurah Johan didapatkan telah kaku tubuhnya di- atas pelaminan pengantin.
Kematian Meurah Johan disebutkan cukup misterius dan mereka baru mengetahui penyebab yaitu disaat jenazah dimandikan. Mareka mendapatkan tubuh Meurah Johan kebiru-biruan seperti tersengat kelingking. Bisik-bisik tentang misteri kematian Meurah Johan segera lenyap manakala si cantik jelita, Putrou Neng mendapat lamaran baru tentu yang berkenan di hatinya dan syarat yang harus dipenuhi.
Putrou Neng kembali menikah, kasusnya sama seperti nasib Meurah Johan, meninggal di tempat tidur dengan kebiru-biruan sekujur tubuh. Anehnya, kendati banyak pemuda yang meninggal dimalam pertama bersama Putro Neng tetap saja dilamar pemuda lainnya. Putrou Neng memang cantik sekali, namun dia sepertinya memiliki semacam azimat untuk menaklukkan hati lelaki.
Dikabarkan, dari sekian pemuda (kebanyakan anak raja) yang sudah mencapai 99 orang semua terkapar diranjang dengan tubuh kebiru biruan. Adalah pemuda yang ke-100 dia seorang syeh asal Gujarat, India. Syeh Hudam namanya. Dia berhasil mempersunting Putrou Neng dan tidak mengalami kematian seperti 99 suami semalam lainnya. Apa rahasia manjur dari Syeh Hudam.
Rupanya dia telah menyelidiki kasus demi kasus terhadap pemuda yang menikahi Putrou Neng. Dengan penuh perhitungan, Syeh Hudam pasang kuping sambil pasang mata-mata untuk menyelidiki cerita rakyat yang tinggal di sekitar istana sang janda jelita, Putro Neng. Ketrahuanlah kalau Putrou Neng di rambut bawahnya bersembunyi kalajengking. “Pantaslah”, sebut mareka.
Karuan saja, 99 orang pemuda yang kena sengat kalajengking, pada meninggal semua. Dan Syeh Hudam yang memiliki firasat lain coba pasang siasat, mengatur jarak sebelum menyentuh tubuh Putro Neng. Jarinya diberi minyak pembunuh bisa. Lalu kalajengking yang coba merayap terdentuh ujung jari Syeh Hudam disaat itu pula kalajengking  terkapar menemui ajalnya.
Syeh dari Gujarat ini selamat dan bisa berumah tangga dengan Putro Neng dengan aman dan nyaman . Namun kasihan, perkawinan mareka tidak mendapat keturunan. Putrou Neng meninggal di usia sudah tua. Kuburannya kini masih ada, sudah dipugar di desa Blang Pulo, di tepi jalan masuk pabrik instalasi gas alam cair  (LNG) Blang Lancang.
Sementara kuburan Syeh Hudam sendiri juga masih ada. Dia tidak dikuburkan di dekat Putrou Neng. Tapi di sebuah bukit di Blang Pulo. Baik kuburan Putrou Neng maupun kuburan Syeh Hudam, hingga kini tetap terpelihara.

Rabu, 15 Agustus 2012

unik

10. Perbatasan Spanyol dan Maroko


Ceuta seluas 18,5 kilometer persegi kota otonom di Spanyol dan eksklave terletak di pantai utara Afrika Utara, dikelilingi oleh Maroko. Dipisahkan dari semenanjung Iberia oleh Selat Gibraltar, Ceuta terletak di perbatasan Laut Mediterania dan Samudra Atlantik.

Maroko mengklaim Ceuta, bersama dengan kota otonom di Spanyol Melilla, dan sejumlah pulau Mediterania di perbatasan itu, yang telah  memaksa Spanyol untuk mendirikan pagar perbatasan setinggi 3 meter di sekitar kota atasnya dengan kawat berduri.


9. Perbatasan Baarle-Nassau/Baarle-Hertog


Baarle-Nassau adalah sebuah Kota di Belanda. Ini pembagian perbatasan yang tidak biasa dengan distrik di Belgia Baarle-Hertog.

Baarle-Hertog terdiri dari 26 bagian terpisah dari wilayah yang dikelilingi oleh Baarle-Nassau, tetapi beberapa bagian dari Baarle-Hertog juga daerah milik Baarle-Nassau. Bagian wilayah terkecil milik Belgia hanya dua pertiga (seperempat hektar).

Perbatasan ini begitu rumit sehingga bahkan ada beberapa rumah yang terbelah olehnya. Dalam gambar di atas Anda dapat melihat Belanda di sisi kiri dan Belgia di sebelah kanan.


8. Bir Tawil


Bir Tawil adalah sebidang tanah dengan luas sekitar 795 mil persegi. Terletak antara Mesir dan Sudan. Daerah ini sengaja dibuat pada tahun 1902, ketika Inggris menarik perbatasan yang berbeda dari yang diciptakan pada tahun 1899. Dua batas yang berbeda membuat dua daerah yang berbeda, Bir Tawil dan Halaib.

Halaib memiliki berbagai sumber daya, sehingga diinginkan, tetapi Bir Tawil tidak. Oleh karena itu, Mesir mengklaim perbatasan pada 1899, yang memberikan Halaib ke Mesir dan Bir Tawil ke Sudan. Namun sebaliknya, Sudan mengklaim perbatasan tahun 1902, yang memberikan Halaib ke Sudan dan Bir Tawil ke Mesir.

Baik Mesir dan Sudan menegaskan bahwa Bir Tawil bukan miliknya, membuat Bir Tawil satu-satunya tanah di dunia (di luar Antartika) yang tidak diklaim oleh negara manapun.


7. Mount Everest


Mengapa Moun Everest ada di daftar ini Anda mungkin bertanya? Semua orang tahu, tentu saja, bahwa itu adalah gunung tertinggi di dunia, tetapi apa yang banyak orang tidak tahu adalah bahwa perbatasan Nepal dan Cina berjalan tepat di tengah-tengah gunung, termasuk puncak itu sendiri, sehingga tidak hanya gunung tertinggi, tetapi juga daerah perbatasan tertinggi.


6. District of Columbia


District of Columbia awalnya adalah berlian besar yang diukir dari Maryland dan Virginia. Kemudian, bagian Virginia dikembalikan ke Virginia, karena bentuk ukuran dan lokasi perbatasan memiliki beberapa fitur yang tidak biasa.

Ketika itu awalnya digambarkan, batu-batu besar (100 batu totalnya) ditempatkan terpisah sekitar satu mil di sepanjang distrik untuk menentukan perbatasan, sepuluh mil panjang di setiap sisi. Beberapa dari batu ada yang hilang hari ini, namun sebagian besar masih ada. Ada satu di Silver Spring, Maryland, yang menandai titik paling utara dari distrik.

Avenue Timur dan Avenue barat membentuk perbatasan Timur Laut dan Barat Laut, masing-masing. Jika Anda berjalan di trotoar di sisi utara jalan di Maryland, jalan tersebut berada pada distrik, dan pinggir jalan adalah garis batas negara.

Toko di salah satu sisi jalan yang menunjukkan nomor telepon di jendela mereka akan memiliki satu kode area (untuk Maryland) pada sisi utara jalan, dan kode area yang berbeda (untuk Distrik) di sisi selatan.


5. Derby Line, Vermont


Kota Derby Line melintasi AS dan perbatasan Kanada. Perbatasan melewati menembus kota, bahkan melalui beberapa bangunan dan rumah.

Dalam beberapa kasus, sebuah keluarga masak sarapan pagi di kanada dan memakannya di AS. Derby Line juga rumah bagi Haskell Free Library dan Opera House, yang sengaja dibangun di perbatasan.

Panggung opera berada di Kanada, tetapi pintu masuk ke opera, dan sebagian besar kursi panggung, berada di Amerika Serikat. Karena itu gedung yang berada di perbatasan ini, memiliki 2 alamat post, satu untuk AS dan satu untuk Kanada.


4. Distrik Cooch-Behar


Distrik-Cooch Behar memiliki perbatasan agak mirip dengan perbatasan Baarle-Nassau / Baarle-Hertog. Ada sejumlah bidang di bawah yurisdiksi Bangladesh yang terletak di India, dan sebaliknya. Sebuah keunikan tambahan adalah daerah India Balapara Khagrabari.

Sebagai sebuah eksklave (enclave adalah sebuah wilayah yang batas geografis terletak sepenuhnya dalam batas-batas wilayah yang lain.), dikelilingi oleh wilayah Bangladesh.

Namun, juga mengelilingi wilayah lain Bangladesh, dan wilayah itu sendiri mengelilingi wilayah lain India, Dahala Khagrabari, sehingga daerah ini menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana sebuah eksklave berisi eksklave dan juga mengandung eksklave lain.


3. Korean Demilitarized Zone 


Korean DMZ adalah sebidang tanah sekitar 160 mil (258 kilomters) panjangnya dan 2,5 mil (4 km) lebarnya, membagi Utara dan Korea Selatan. Ini adalah perbatasan paling banyak personel militernya di dunia.

Karena sangat dijaga ketat dan hampir tidak ada yang pernah masuk, itu telah menciptakan alam yang lestari. Sejumlah spesies yang terancam punah telah diambil dan diletakkan di sana, dan ada indikasi bahwa beberapa dari mereka bahkan meningkat dalam populasi.

Sebuah perbatasan antara kedua Korea tidak dapat secara resmi disepakati, karena dua negara ini secara teknis masih berperang. Sebuah gencatan senjata disepakati pada tahun 1953, tetapi tidak pernah ada perjanjian perdamaian yang resmi.


2. Sungai Tumen


Tumen adalah sungai di timur laut Asia. Di daerah dekat pantai, di perbatasan antara Rusia dan Korea Utara, hanya untuk bagian selatan Danau Khasan, Tumen luar di antara Rusia dan Korea Utara dan sebenarnya di wilayah Cina.

Dengan demikian, di daerah ini, Anda bisa mulai di Korea Utara, dan hanya dengan berjalan kaki ke utara kurang dari setengah mil, Anda akan melewati Cina dan berakhir di Rusia.

Meskipun mungkin bukan ide yang baik. Ini adalah tempat umum bagi Korea Utara untuk mencoba menyebrang dan karena alasan itu, perbatasan ini dijaga ketat oleh tentara Korea Utara.


1. Pulau Diomede


Diomedes adalah sepasang pulau di Selat Bering.di Little Diomede ada kota Diomede, dengan populasi 146 milik Amerika dan Big Diomede milik Rusia dan tak berpenghuni.

Dua pulau terpisah hanya sekitar 2,5 mil. International Date Line lewat di antara Diomedes dan berfungsi juga sebagai perbatasan antara Amerika Serikat dan Rusia.

Jadi, ketika warga di Little Diomede melihat ke seberang selat di Big Diomede, mereka tidak hanya melihat negara lain, namun mereka juga akan melihat hari esok. Misalnya, ketika 09:00 adalah hari Sabtu di Little Diomede, Sedangkan di big Diomede pukul 6:00 hari Minggu

Little Diomede telah menyediakan kamera untuk mengamati seberang pulau. Pengunjung dapat mengontrol kamera, mengamati dari sisi ke sisi dan zoom pada pulau Big Diomede dan hal ini menjadikan Little diomede sebagai satu-satunya tindakan Mata-mata oleh Amerika terhadap rusia yang legal.